BPBD Kab. Probolinggo

Jl. Raya Soekarno-Hatta No. 27 Probolinggo Telp. / Fax : (0335) 424071/

PERINGATAN DINI
  • WASPADA CUACA FLUKTUATIF ! "Info Cucaca Probolinggo" http://infocuaca.id/probolinggo . STATUS BROMO WASPADA RADIUS AMAN 1 KM !

KEJADIAN BENCANA SEPANJANG TAHUN 2016

KEJADIAN BENCANA SEPANJANG TAHUN 2016

PROBOLINGGO – Sepanjang tahun 2016 tercatat sejumnlah 72 kejadian bencana di Kabupaten Probolinggo meliputi Kekeringan, Banjir, Longsor, Angin Kencang, Pohon Tumbang, Kebakaran Hutan Lahan, ROB dan Kegagalan Teknologi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.342 bencana terjadi sepanjang 2016. Data BNPB menyebutkan kejadian bencana tahun ini merupakan tertinggi sejak kurun waktu 14 tahun terakhir. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan bahwa kejadian bencana meningkat 35% dibandingkan tahun 2015.

Sejumlah 66 % dari 24 Kecamatan di Kabupaten Probolinggo terdampak kejadian bencana. Berdasarkan data bencana, kejadian longsor mendominasi sepanjang tahun ini yakni sejumlah 29 %, Angin 25%, Banjir 17%, Kebakaran, Kekeringan dan Erupsi sebanyak 13%. Sedangkan gempa bumi sebanyak 0%. Sempat terpantau pada November 2016 terjadi Gempa Bumi yang berpusat di Malang, Jawa Timur dengan kekuatan 5,8 SR (Sumber: BMKG) getaran gempa dirasakan di Seluruh Wilayah Jawa Timur, Jember, Lombok, Yogyakarta termasuk Kabupaten Probolinggo namun tidak menimbulkan dampak dan korban di Probolinggo.

Pada 27 Mei 2016 terjadi cuaca ekstrim di Kabupaten Probolinggo yang berdampak pada beberapa kecamatan secara tersebar dan terjadi bersamaan. Jembatan rusak, pohon tumbang, angin kencang, longsor dan banjir terjadi akibat kondisi tersebut. Berbagai kejadian bencana di Kabupaten Probolinggo berdampak pada beberapa aspek diantaranya Aktifitas Masyarakat, Lingkungan, Infrastruktur, Kerugian Material dan Korban. Bencana dapat memicu peningkatan angka kemiskinan. Sebagian besar bencana menimpa masyarakat yang miskin. Bencana melanda daerah-daerah rawan bencana yang menyebabkan keluarga miskin meningkat karena gagal panen, kehilangan aset produksi dan terganggunya kehidupan sehari-hari

“Secara umum budaya sadar bencana di masyarakat masih rendah. Kita masih sering mengabaikan aspek risiko bencana dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya masih sangat minim kontruksi rumah tahan gempa yang dibangun masyarakat maupun swasta. Kita perlu mewujudkan budaya sadar bencana, mengingat jutaan masyarakat Indonesia terpapar potensi bahaya yang berujung bencana.” (http://www.bnpb.go.id). Kesiapsiagaan harus tetap menjadi prioritas masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Pada 2017 nanti Sutopo mengingatkan masyarakat bahwa potensi bencana hidrometeorologi patut diwaspadai pada Januari hingga April, kemudian November dan Desember. Juni hingga Oktober perlu diwaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan, dan sepanjang tahun terhadap potensi gempabumi, tsunami dan erupsi gunungapi.

 

 

 

PUSDALOPS PB

BPBD KAB. PROBOLINGGO