BPBD Kab. Probolinggo

Jl. Raya Soekarno-Hatta No. 27 Probolinggo Telp. / Fax : (0335) 424071

PERINGATAN DINI
  • Akhir November Memasuki Awal Musim Penghujan, Waspada Anomali Cuaca disertai Angin Kencang! - Kenali BAHAYAnya, Kurangi RISIKOnya! - Radius Aman Gunung Bromo 1 Km dari Kawah, Segera Menjauh Apabila Terpantau Peningkatan Aktivitas Gunung Api! - Salam Tangguh Bencana! #SiapUntukSelamat #BudayaSadarBencana

Kunjungan Spesifik Cuaca Ekstrem Di Kawasan Gunung Bromo Komisi VIII DPR RI

Kunjungan Spesifik Cuaca Ekstrem di Kawasan Gunung Bromo  Komisi VIII DPR RI

PROBOLINGGO – Senin, 15 Oktober 2018 Komisi VIII DPR RI melaksanakan kunjungan spesifik terkit cuaca ekstrem terutama di wilayah Gunung Bromo. Kedatangan Komisi VIII DPR RI disambut oleh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah yang meliputi Bupati dan Wakil Bupati, Kapolres, Kapolresta, Dandim 0820 Probolinggo, Kepala Kejaksaan, Ketua Pengadilan dll. Selain itu kegiatan penyambutan diikuti oleh seluruh Kepala OPD di Kabupaten Probolinggo dan Camat Se- Kabupaten Probolinggo.

Penyambutan dimulai pukul 11.00 WIB dengan forum diskusi, setelah Bupati Probolinggo memberikan sambutan selamat datang, Ir Anung Widiarto, MM Kepala Pelaksana BPBD memberikan paparan terkait Karakteristik dan Potensi Bencana di Kabupaten Probolinggo. Mengingat salah satu mitra kerja Komisi VIII DPR RI adalah BNPB tentu diharapkan melalui materi yang dipaparkan oleh BPBD dapat menjadi bahan untuk diskusi khususnya terkait cuaca ekstrem di Wilayah Gunung Bromo berkaitan dengan penanganannya.

Gunung Bromo merupakan sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berbatasan langsung dengan empat wilayah yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang.  Beberapa potensi bencana di Gunung Bromo meliputi, Erupsi, Tanah Longsor, Angin Kencang dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Pada awal bulan Agustus 2018 di Kawasan Gunung Bromo terjadi fenomena “Bun Upas” yakni berupa embun es yang menutupi tanaman milik warga dan berpotensi merusak tanaman. Kemudian pada awal September terjadi Karhutla di Savana Gunung Bromo yang sedikitnya menghanguskan 650 Ha, tahun ini merupakan dampak yang terluas selama kurun waktu 3 tahun terakhri.

“Kejadian Karhutla Gunung Bromo merupakan kejadian yang hampir setiap tahun berulang terutama musim kemarau. Dalam penanganan Karhutla sejauh ini masih dengan alat tradisional yakni “gepyok” selain itu terhambat dengan kondisi morfologi yang terjal.” Ujar Ir Anung Widiarto, MM Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo dalam paparannya.

Permasalahan tersebut menjadi atensi dalam diskusi siang itu. Mengingat dalam setiap tahun terjadi namun dalam penanganannya belum dapat berjalan secara optimal. Diharapkan melalui diskusi ini permasalahan tersebut dapat menemukan solusi yang lebih efektif serta petunjuk terkait upaya penanganan Karhutla di Gunung Bromo.  

 

 

 

Pusdalops PB

BPBD Kabupaten Probolinggo