BPBD Kab. Probolinggo

Jl. Raya Soekarno-Hatta No. 27 Probolinggo Telp. / Fax : (0335) 424071/

PERINGATAN DINI
  • Waspada Angin Kencang di Musim Kemarau! Kenali BAHAYAnya, Kurangi RISIKOnya! Radius Aman Gunung Bromo 1 Km dari Kawah!

SARASEHAN PENGURANGAN RESIKO BENCANA

SARASEHAN PENGURANGAN RESIKO BENCANA

PROBOLINGGO – Bencana kini bukan lagi menjadi sebuah istilah yang asing bagi penghidupan masyarakat. Sejak terjadi Bencana Tsunami tahun 2004 silam di Aceh, Sumatera menjadikan pendidikan akan pentingnya mengenal bencana dalam kehidupan menjadi sebuah hal yang sangat penting dan dianggap perlu. Tanpa disadari letak strategis Indonesia berada diatas 3 perbatasan lempeng bumi dengan lebih dari 100 gunung api aktif yang berada dipermukaannya. Berbagai cara dan metode kini mulai diterapkan oleh pemerintah maupun masyarakat dalam meningkatkan upaya mitigasi bencana. Kali ini BPBD Kabupaten Probolinggo mengadakan sebuah kegiatan Sarasehan Penguranga Resiko Bencana bersama para politisi, akademisi, dunia usaha dan pemerintah dengan tujuan untuk memulai memahami arah dan kebijakan daerah yang berbasis pengurangan resiko bencana.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2016, dengan beberapa narasumber yang cukup berpengaruh yakni dari Jendral Besar Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Si sebagai perwakilan dari akademisi, Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si sebagai perwakilan dari politisi. Juga sebagai peserta PT. IPMOMI sebagai perwakilan dunia usaha dan Jajaran Pemerintah Kabupaten Probolinggo. Dialog terbuka dan diskusi diantara narasumber dan peserta mulai memberikan gambaran bagi berbagai unsur tersebut untuk memahami dan mencari solusi yang optimal dalam keterkaitan arah dan kebijakan pembangunan daerah berbasis pengurangan resiko bencana.

Dalam pidato Prof. Syamsul Maarif menyatakan “ sebagai seorang insan selayaknya kita memahami bagaimana menghargai penghidupan alam, segala yang di alam juga hidup tak hanya manusia yang tumbuh dan berkembang pegunungan, tanah, bahkan perairan juga memiliki aktivitas yang sama” dari sekilas apa yang Beliau sampaikan menunjukkan bahwa bencana bukan sekedar malapetakan namun hidup berdampingan dengan bencana akan membawa manusia dapat memahami dan menghargai proses alam. Bencana tidak dapat dihindari atau bahkan dihilangkan namun dampak bencana dapat diminimalisir. “Pendidikan dan pengetahuan akan bencana hendaknya diterapkan sejak dini sehingga dalam diri seorang manusia akan tertanam bagaimana kesigapan dan kesiapan menanggapi terjadinya bencana” berikut ujan Prof. Syamsul.

Sepanjang diskusi tersebut sebagai perwakilan dari politisi, Drs. Hasan Aminuddin menyepakati hal yang sama, “dalam segi perkembangan daerah hendaknya menerapkan budaya yang tanggap bencana dan kegiatan pengurangan resiko bencana melalui perencanaan daerah sebaiknya dipupuk dari pemerintah tingkat desa sehingga sinergisitas antar pengembang daerah dapat tercipta dengan baik” ujarnya. Beberapa tanggapan dari peserta Sarasehan juga tercetus akan pentingnya pendidikan terkait pengetahuan bencana sehingga masyarakat akan terbiasa dan mampu menanggapi kejadian bencana sebagaimana mestinya dengan harapan dampak dari kejadian bencana dapat diminimalisir.

Tidak hanya dalam segi pendidikan, pengetahuan masyarakat akan memanfaatkan dan memperlakukan lingkungan juga perlu dipahami sejak dini seperti tentang sikap konservatif dalam memilih vegetasi yang akan ditanam dengan menyesuaikan kondisi lahan sehingga tidak mengganggu proses penghidupan sumber daya alam yang ada. Pentingnya pemahaman akan pengurangan resiko bencana kini mulai menjadi perhatian, dengan dilaksanakannya kegiatan tersebut BPBD Kabupaten Probolinggo berharap mampu merintis pembangunan dan perencanaan perkembangan wilayah sinergi dengan pengurangan resiko bencana dimulai dari pemerintah setempat baik melalui pendidikan, pelatihan maupun kebudayaan. (pb/vd)

 

 

 

Pusdalops PB

BPBD Kabupaten Probolinggo