BPBD Kab. Probolinggo

Jl. Raya Soekarno-Hatta No. 27 Probolinggo Telp. / Fax : (0335) 424071

PERINGATAN DINI
  • Akhir November Memasuki Awal Musim Penghujan, Waspada Anomali Cuaca disertai Angin Kencang! - Kenali BAHAYAnya, Kurangi RISIKOnya! - Radius Aman Gunung Bromo 1 Km dari Kawah, Segera Menjauh Apabila Terpantau Peningkatan Aktivitas Gunung Api! - Salam Tangguh Bencana! #SiapUntukSelamat #BudayaSadarBencana

Bakorwil Jember Koordinasikan Karhutla Bromo Yang Setiap Tahun Berulang

Bakorwil Jember Koordinasikan Karhutla Bromo  Yang Setiap Tahun Berulang

PROBOLINGGO – Rabu 13 November 2018 Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Jember melaksanakan rapat koordinasi terkait permasalahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kawasan Gunung Bromo yang setiap tahun berulang. Sejak Tahun 2016 hingga saat ini area terbakar meluas, pada tahun ini kurang lebih 600 Ha Savana Bromo terbakar. Letak administratif Gunung Bromo berbatasan dengan 4 (empat) Kabupaten yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Sehingga permasalahan di Gunung Bromo menjadi permasalahan 4 kabupaten tersebut.

Rapat koordinasi berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga 13.00 WIB. Pimpinan rapat dihadiri secara langsung oleh Kepala Bakorwil Jember, R Tjahjo Widodo. Peserta rapat terdiri atas BPBD, Dinas Perhubungan, TNI dan Polri dari 4 Kabupaten (Kabupaten Probolinggo, Malang, Lumajang dan Pasuruan), BPBD Provinsi Jawa Timur, TNBTS, Perhutani dan BASARNAS.

 “Walaupun pada setiap kejadian Karhutla tidak terdapat korban, namun bukan berarti permasalahan yang setiap tahun berulang ini harus didiamkan saja. Selain itu kondisi tersebut dapat merusak kondisi kesehatan lingkungan di Wilayah Gunung Bromo” Pesan Kepala Bakorwil dalam Rapat Koordinasi tersebut.

Selama ini banyak permasalahan yang menjadi penyebab kebakaran. Kondisi cuaca yang panas dan kering di Wilayah Bromo menyebabkan gesekan alng alang yang menimbulkan api yang kemudian meluas karena angin yang telatif kencang. Berdasarkan catatan terdapat permasalahan dalam melaksanakan pemadaman ketika terbakar yakni faktor morfologi yang bergunung dan terjal sehingga apabila pusat api berada pada lokasi tersebut petugas akan kesulitan memadamkan api baik dari pihak Aparat (TNI/POLRI), TNBTS, BPBD maupun Relawan. Selain itu keterbatasan sarana prasarana yang masih minim menjadi penghambat dalam proses pemadaman mengingat hingga saat ini ketika terjadi Karhutla masih menggunakan alat tradisional (gepyok).  

Sebagai hasil dari koordinasi lintas wilayah yang di inisiasi oleh Bakorwil Jember ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi untuk diajukan kepada Gubernur sehingga kedepan terdapat penyelesaian dan solusi ketika terjadi Karhutla baik dari sisi Pencegahan maupun Penanganan Darurat. (vd)

 

 

 

Pudalops PB

BPBD Kabupaten Probolinggo.