BPBD Kab. Probolinggo

Jl. Raya Soekarno-Hatta No. 27 Probolinggo Telp. / Fax : (0335) 424071

PERINGATAN DINI
  • Status Gunung Bromo Waspada Level II - Rekomendasi PVMBG Radius Aman 1 Km dari Kawah Gunung Bromo - Waspada Krisis Air Bersih Dampak Musim Kemarau Panjang, Gunakan Air Seperlunya! Salam Tangguh Salam Kemanusiaan!

BPBD Antisipasi Potensi Kekeringan Pada Awal Musim Kemarau

BPBD Antisipasi Potensi Kekeringan pada Awal Musim Kemarau

PROBOLINGGO – Berdasarkan informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Klass I Juanda Surabaya dijelaskan terkait prakiraan kondisi cuaca bulan Juni hingga Agustus 2019 yang mulai memasuki musim kemarau. Berdasarkan data Pusdalops PB dalam enam tahun terakhir daerah terdampak kekeringan terpantau menurun. Berikut data rincian sejak tahun 2013 hingga 2018,

  • Tahun 2013 = 12 Kecamatan 44 Desa
  • Tahun 2014 = 13 Kecamatan 40 Desa
  • Tahun 2015 = 11 Kecamatan 39 Desa
  • Tahun 2016 = 11 Kecamatan 31 Desa
  • Tahun 2017 = 7 Kecamatan 16 Desa
  • Tahun 2018 = 7 Kecamatan 12 Desa

 

Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa jumlah daerah terdampak kekeringan di Probolinggo menurun. “terlihat ada trend semakin sedikit jumlah desa yang mengalami kekeringan. Namun masalah kekeringan di Kabupaten Probolinggo belum dapat diselesaikan hingga 100%, hal ini dikarenakan beberapa daerah seperti di Bulujaran kidul dan sekitarnya jauh dari mata air.” Ujar Kepala Pelaksana BPBD, Anggit Hermanuadi.

Selain itu faktor kekeringan di Kabupaten Probolinggo relatif beragam yakni, musim kemarau berkepanjangan menyebabkan ketersediaan air menurun, kemudian beberapa daerah yang memiliki morfologi terjal sangat jauh dari mata air dan memiliki lapisan aquifer (tempat ketersediaan air) yang cukup dalam. Selain faktor tersebut, adanya infrastruktur yang belum merata dan tidak berjalan secara optimal juga melatarbelakangi penyebab kekeringan di Probolinggo, belum lagi pada dua tahun belakangan (Tahun 2017/2018) banyak infrastruktur yang mengalami kerusakan akibat bencana alam (Pipa dan jaringan air rusak karena tertimpa tanah longsor) imbuhnya.

Melihat berbagai faktor yang cukup beragam menurutnya, sejauh ini BPBD melakukan beberapa upaya dalam penanganan kekeringan seperti,

1. Distribusi air bersih ke daerah terdampak

2. Distribusi bantuan tandon yang bisa dimanfaatkan sebagai terminal air

3. Berkoordinasi dengan OPD terkait (PU dan DLH) terutama tentang kegiatan perpipaan dan pengeboran sumur serta optimalilasi sumber mata air agar menjadi prioritas untuk daerah yang berpotensi kekeringan.

 

Melalui upaya tersebut diharapkan kebutuhan air bersih dimasyarakat dapat terpenuhi dan segera ada upaya berkelanjutan bersama OPD terkait sehingga jumlah daerah terdampak kekeringan dapat diantisipasi. Kepala Pelaksana BPBD juga menjelaskan bahwa hingga saat ini pada minggu pertama Bulan Juli belum ada laporan terkait krisis air bersih dari pemerintah setempat maupun masyarakat. Namun sejak dini kendaraan operasional distribusi air akan disiagakan sehingga ketika terdapat permohonan, upaya penanganan kekeringan dapat berjalan lebih optimal.

Selain itu Bapak Anggit menghimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dan menggunakan air bersih secukupnya, apbila terpantau kondisi krisis air bersih dihimbau untuk segera melapor dan mengajukan permohonan melalui pemerintah setempat kepada BPBD, agar tidak terjadi keterlambatan informasi yang dapat berakibat keterlambatan pemenuhan kebutuhan air bersih.

 

 

 

 

Pusdalops PB

BPBD Kabupaten Probolinggo