BPBD Kab. Probolinggo

Jl. Raya Soekarno-Hatta No. 27 Probolinggo Telp. / Fax : (0335) 424071/

PERINGATAN DINI
  • Waspada Angin Kencang di Musim Kemarau! Kenali BAHAYAnya, Kurangi RISIKOnya! Radius Aman Gunung Bromo 1 Km dari Kawah!

Wonokerso, Destana Kabupaten Probolinggo 2016

Wonokerso, Destana Kabupaten Probolinggo 2016

Desa Wonokerso secara administratif merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Sumber Kabupaten Probolinggo. Secara Geografis Desa Wonokerso berada pada 270000 – 276000 mU hingga 9120000-9123000 mT (Universal Transverse Mercatoor) atau 113o00’ – 113o05’ 07o05’-08o00’. Berdasarkan morfologi Desa Wonokerso, Sumber memiliki kemiringan lereng yang cukup terjal dan miring yakni 8-40% dengan kenampakan bukit bergunung dan bertebing. Berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana Desa Wonokerso, Sumber termasuk dalam kawasan rawan bencana tanah longsor zona sedang hingga tinggi dan termasuk pula pada kawasan rawan bencana gunung meletus zona tinggi. Mengingat Desa Wonokerso termasuk dalam kawasan rawan bencana di Kabupaten Probolinggo sehingga Desa Wonokerso ditunjuk sebagai Desa Tangguh Bencana.

Desa Wonokerso memiliki sebuah kelompok tematik masyarakat peduli bencana dan lingkungan yang bernama Kobar Bromo. Kobar Bromo merupakan sebuah kelompok tematik masyarakat atau perkumpulan masyarakat yang memiliki kepeduli akan kebencanaan dan memiliki tujuan yang sama yakni berharap mampu mengajak masyarakat untuk bersikap waspada dan peduli akan adanya bencana. Kobar bromo di Kabupaten Probolinggo berdiri sejak tahun 2012, asalnya Komunitas Kobar berada di daerah tapal kuda di Provinsi Jawa Timur yakni tersebar di Kabupaten Lumajang, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi. Secara umum kegiatan Kobar sendiri meliputi pelatihan pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat dan menjalin paseduluran khususnya dikawasan lingkar delapan bromo-semeru. Bromo termasuk dalam salah satu kawasan yang menjadi tujuan Komunitas Kobar sehingga Komunitas Kobar yang berada di Kabupaten Probolinggo dinamakan Kobar Bromo. Berbagai kegiatan terkait konservasi lingkungan dan mitigasi bencana di area Kecamatan Sumber khususnya. Melalui Komunitas Kobar Bromo BPBD Kabupaten Probolinggo mengajak masyarakat khususnya yang berada di Kawasan Rawan Bencana seperti Desa Wonokerso, Sumber untuk peduli terhadap upaya-upaya mitigasi bencana sehingga mampu menopang untuk menjadi Desa Tangguh Bencana. Beberapa kegiatan terkait koordinasi dan sosialisasi untuk sekedar saling berkomunikasi terkait mitigasi bencana di Desa Wonokerso, Sumber oleh BPBD Kabupaten Probolinggo bersama masyarakat sudah dilakukan. Bahkan pada 18 Mei 2016 BPBD Kabupaten Probolinggo melaksanakan kegiatan Sosialisasi Kesiagaan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat bersama Kobar Bromo dan masyarakat sekitar Desa Wonokerso sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana). Pelaksanaan kegiatan tersebut bertujuan untuk mempersiapkan Desa Wonokerso, Sumber sebagai Desa Tangguh Bencana di Kabupaten Probolinggo. Dalam kegiatan tersebut BPBD Kabupaten Probolinggo menerapkan “Pemetaan Partisipatif” dimana masyarakat akan memetakan lokasi tempat tinggal mereka yang berada didalam kawasan rawan bencana. Selain itu masyarakat diberikan arahan dan secara bersama berpartisipasi dalam penentuan arah evakuasi ketika terjadi bencana.

Dengan pemetaan partisipatif secara tidak langsung dapat menggiring opini dan pemikiran masyarakat terkait keaktifan masyarakat dalam upaya mitigasi bencana  serta mereka mulai tersadar bahwa mereka berada di daerah rawan bencana. Kegiatan tersebut dimulai sejak pukul 11.00 WIB hingga selesai. Partisipasi dan antusias masyarakat cukup tinggi, bahkan riview pemetaan Desa Wonokerso berdasarkan batas administrasi yang terbaru dibuat secara bersama. Kegiatan tersebut menjadi sebuah proses koordinasi yang efektif karena pemetaan kawasan rawan bencana beserta arah evakuasi dan langkah mitigasi bencana dibuat secara bersama dari pihak BPBD selaku pemerintah daerah dengan masyarakat sekitar yang berada di kawasan rawan bencana. Kegiatan tersebut tidak hanya berhenti hingga sore namum akan tetap berlanjut dengan simulasi penanggulangan bencana yang akan dilaksanakan dikemudian hari. Bahkan diharapkan kegiatan tersebut dapat berkelanjutan hingga upaya mitigasi bencana yang benar-benar optimal dapat diterapkan. (pb/vd)